D O K Y U's Journey

**Surat Cinta Perempuan (Dari Balik Meja Dapurnya)

Pertama-tama perempuan memulai dengan menjejalkan pada hatinya sebuah impian.

 

Aku jelas berjarak dari buruan para laki-laki

            Sekiranya aku mengerti ketika langit telah kelam

            Dari suatu kemenangan yang layak, dan pagi dan senandungkan

 

Sophie M. Almon-Hensley --- dari kumpulan puisi bunga 1895

 

Setiap perempuan memulainya dengan harap yang banyak, ingin yang banyak, seperti dipenuhinya kue-kue dengan banyak gula dan krim yang manis, menjadikan kemuraman permukaan, dan langit yang jauh dari jangkau tangan, merisi tertutupi, walau peralatan kasar, tajam, bau rempah yang menyengat, tungku api yang panas membakar yang digunakannya. Jika tidak ada cinta, barangkali tidak akan ada kue-kue enak yang dihidangkan di meja.

 

Kue menjadi enak

Ketika tertitip rasa sayang kita untuk membuatnya

 

                                                Yoko Shoji --- dalam Popcorn

 

 

Barisan rapih perlengkapan masak, jejeran bertumpuk bahan masakan, mari kita mulai sebuah perang untuk menggugat apa-apa yang selama ini dijadikan bahan tertawaan oleh mereka yang senang main rendah gender pada setiap benda-benda dan perlengkapan yang setua umur manusia ini, lebih tua dari peralatan ‘kelamin’ macho macam Tank dan Senapan. ‘Nah loh, gimana dengan tombak, bukankah tombak juga setua umur manusia’, benar Doel, tapi dari awal tombak itu di ciptakan untuk berburu (haunting—forraging) binatang yang bisa di ambil manfaat proteinnya, barangkali dari sekelumit lemak protein hewani itu, kau bisa bikin Okonomiyaki yang lezat. Lebih dari itu. Sebentuk dapur memiliki filosofi yang rumit. Lebih rumit barangkali dari teori fisika kuantum. Karena dibandingkan teori kuantum yang mentah dan tidak ada penyelasaian itu, di dapur mau tidak mau kau harus menyelesaikan sesuatu. Serapih-rapihnya –terserahmu dari apa yang kau sebut rapih itu, yang jelas asal perkara selesai, semudah memasang pentil sepeda pada tempatnya mau dibikin rapat atau longgar pokoknya tuntas.

Dalam perkara filosofi dapur ini kita bisa bicara banyak hal, dan belajar banyak hal yang sifatnya mengembangkan sesuatu, berdasarkan partitur sebuah resep, atau ekpansi tiada habisnya atas sebentuk rasa yang dikecap lidah.

 

Ah. Apa yang aku lakukan? Kau (laki-laki) akan lihat dan menghormati segala yang selesai, tapi kau tak pernah tertarik dengan segala susunan itu.

Dengan kata lain, cintamu tidak pernah seimbang untukku.

 

Anonim—dalam An English Woman Love Letters

 

Di dalam kulkas itu terdapat tiga ons daging iga sapi. Dan satu ons keheranan terhadap timbangan pria akan sebentuk iga. Di katakan oleh siapa saja sembarang tempat, bahwa perempuan diciptakan dari saripati iga laki-laki. Ya, tidak masalah juga sih mau berasal dari saripati bulu kuduk, atau dari kolesterol yang menumpuk dan bergelambir di pangkal siku. Apakah dengan penyebutan demikian ada suatu jerat yang mengharuskan perempuan ini-itu terhadapnya? Semenjak Billy Jean King di bayar separuh hadiah laki-laki di Wimbledon, itu bukan masalah yang kadung membuat sakit hati. Dalam hal ini, perempuan pingin perkara cepat selesai: silahkan mengukur-ngukur jumlah saripati hak kalian itu, tapi jangan rusuh. Toh semua kebagian, kalau hanya ingin menyusu saja. Kita tahu bahwa kalian memiliki puting –tapi tampaknya dua benda yang menggantung di dada kalian itu tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

 

Impian Cinderella tidak Berada di Dapurnya

 

Sayuran seperti kangkung dan brokoli tidak pernah tumbuh di kebun Cinderella. Barangkali adigung tentang kegadisan, kecantikan yang adigung itu, tidak tumbuh dari cerita tentang desa-desa yang semai acap menebar benih-benih di setiap tanah lapangnya. Benar. Barangkali Cinderella lahir di tengah apartemen, yang kokoh dan besar somewhere gitu loh di suatu tempat di Jerman. Dan Brother Grimm menceritakan nasib si Upik Abu ini dengan sedikit dramatis –demi suspens agar mata tak lekas mengantuk. Artinya juga Cinderella, tidak pernah memasak sama sekali. Tidak pernah menjagal ayam, mencabiknya dalam puluhan potong yang jeli. Karena jika Cinderella jago masak dan pintar main pisau, sifatnya kurang-lebih akan sedikit lebih agresif lah menghadapi keculasan dua saudaranya yang pemalas.

 

Sayuran seperti kangkung dan brokoli tidak pernah tumbuh di kebun Cinderella, jika tumbuh sayuran di kebunnya. Cinderella akan tumbuh menjadi gadis cerdik yang mampu membaca kehadiran suatu musim tanam. Otot lengan yang terlatih menanami benih, lebih dari cukup di anggap sebagai latihan, membangun fisik. Apalagi kedua saudara perempuan tiri-nya pemalas, jarang gerak, dan tidak fitnes, mengherankan mengapa anak serajin Cinderella bisa dipecundangi di rumahnya sendiri.

 

Oh. Rupanya begini. Memang sejak awal semua dongeng itu tidak pernah mengajarkan apa-apa kepada perempuan kecuali untuk berpanjang angan-angan. Benih fasfood sudah sedikit menyusup di dalamnya, segala urusan lancar saja kalau ada peri baik hati (untung ketemu peri yang baik hati, coba kalau ketemu yang sundal –kan repot). Cinderella diajari untuk cengeng, menyerah, dan banyak harap. Apakah dari sikap semacam itu, seandainya untung-untungan sepatu kaca itu ngepas di kakinya kelak, dia akan bisa jadi Ratu yang baik. Minimal jadi Ibu yang tangguh untuk anak-anak yang akan jadi pewaris si Pangeran Tampan Berkuda Putih itu?

 

Jebakan Domestik?

 

Segala macam sanjungan, dorongan dalam sedikit tulisan mengenai dapur ini bukanlah suatu basa-basi untuk menjebak perempuan agar ngendon di dapur sampai dengkul lecet. Tidak ada tendensi yang biadab macam itu. Kita sendiri mafhum, bahwa dapur itu begitu pengap dan tidak pernah tumbuh bunga di atas penggorengan. Wanita memiliki hak untuk merasai alam luas, menginjak rumput di mana saja, cedera jatuh dari tebing (karena mencoba memanjatnya), bahkan berteman dengan Gorilla seperti Lady Jane Smith. Yang tidak menyenangkan, bila wanita meremehkan sebentuk dapur, ketika sebagian besar kaum lelaki telah meremehkannya berabad-abad. Sudah cukuplah, global warming yang membunuh keberadaan umat manusia pelan-pelan. Jangan ditambahi dengan yang semacam ini. Jika perempuan meninggalkan dapur. Itu benar-benar berita yang buruk. Tidak ada pembacaan puisi lagi.***

Welcome

Recent Blog Entries

No recent entries

Google Web Search

Webs Poll